27
Jun
06

Hujatan : Episode II

“Aku ganti channel televisi satu persatu, tapi nggak ada yang lain kecuali satu, sinetron. Barang busuk nan menjijikan, yang bisa-bisanya jadi santapan sehari-hari masayarakat Indonesia. Tidak mengandung unsur pendidikan, yang pantas hanya, hujatan!

Mari kita telaah judul demi judul, episode demi episode. Dari semua sinetron yang ada di layar kaca temanya hanya itu-itu saja, cuma ganti penokohan, peran, sudut pandang serta jalan ceritanya pun gak jauh beda malah banyak yang terkesan sangat mengada-ada. Apakah kreatifitas sineas Indonesia sudah buntu? Apa malah sudah mati???

Stasiun-stasiun televisi itu mungkin hanya mengejar rating, dan sudah nggak peduli lagi dengan apa sih yang akan disampaikan lewat isi sinetron itu sendiri, imbasnya di masyarakat, untuk sekarang maupun ke depannya.

Kita cermati saja, yang ada hanya kalo nggak yang punya tampang cakep-cakep ato cantik-cantik ya malah yang ancur sekalian. Mobil-mobil mewah, rumah-rumah gedong, pamer kekayaan, orang-orang manja. Budaya apa itu? Bukankah nanti akan menjurus ke arah kesenjangan sosial?

Inti ceritanya pun pada nggak mutu. Tebak saja, pasti nggak akan jauh-jauh dari kisah cinta monyet asu bajingan, penindasan, intrik-intrik tai kucing, orang-orang bego bin sinting malah jadi tokoh utamanya. Dan masyarakat kita asik-asik aja mengkonsumsinya.

Tak terbesitkah sedikit fikiran bahwa hal ini merasuk dalam otak kepala kita, otak kepala seluruh masyarakat Indonesia. Kita jelas tidak bisa tinggal diam lalu duduk manis menyaksikan kelanjutannya. Fikirkan anak-anak kita yang setiap hari tidak pernah bosan menonton bahkan sampai hafal tokoh-tokoh serta jalan ceritanya. Bagaimana jika hal itu sampai mempengaruhi pola pikir, emosi serta kehidupan mereka? Mungkin pemikiran atau ketakutan saya ini terlalu berlebihan tapi coba renungkan barang sejenak maka Anda sekalian akan mengerti ketakutan saya.

Tontonan-tontonan itu memang tidak sama sekali tidak mendidik, mungkin ada beberapa pesan-pesan moral yang ingin disampaikan, atau bisa saja hal-hal tersebut juga dapat terjadi atau ada di dalam kehidupan nyata, tapi mbok ya caranya itu lho, yang terlalu berlebihan.

Coba ingat-ingat kembali, saat masa awal berkembangnya stasiun televisi swasta, dari sana sinetron sudah bermunculan, tetapi jika dibandingkan dengan sekarang, bobot ceritanya lebih baik dari yang ada saat ini. Simpel, tidak terlalu mengada-ada, masih dalam batas akal, pola fikir dan logika. Meski tema ceritanya dari dulupun masih mirip-mirip tapi masih lebih enak untuk dinikmati, santai bersama keluarga. Anda tentunya masih ingat tayangan seperti Deru Debu, Jalan Membara, Tahta, Shangrila, Losmen dan sebagainya, pada waktu itu.

Saya merindukan tontonan-tontonan macam Sahabat Pilihan, Imung, kental sekali dengan unsur persahabatan, serta yang paling penting, dalam keserdehanaan. Hal yang tampaknya semakin jauh dari kehidupan kita sehari-hari karena setiap orang ingin tampil lebih wah! dari yang lainnya. Bahkan salah satu stasiun televisi yang dulu sarat dengan acara pendidikan yang menyajikan pendidikan-pendidikan mulai dari tingkat menengah hingga atas, ataupun ilmu pengetahuan lah pada umumnya, kini membusuk.

Indonesia oh Indonesia.


7 Responses to “Hujatan : Episode II”


  1. June 30, 2006 at 01:21

    wahh saya sering nonton sinetron HIDAYAHH.. hehehe :d

    wahh kayaknya ada yang brubah di blog sini nehh ??

    :D

  2. June 30, 2006 at 20:04

    thx for your commnet in my blog! :)

    btw, sinetron = hal yang paling “menjijikan” dalam pertelevisian indonesia, mending setel aja Tom & Jerry!

  3. 3 tukangkoding
    June 30, 2006 at 21:35

    saya kangen sinetron “Strawberry”

    namakuuuuu Strawberry…
    strawberry…..

  4. July 1, 2006 at 03:41

    Saya kangen ACI, Rumah Masa Depan…. untung aja ada SitKom Office boy hihihi

  5. July 2, 2006 at 00:24

    haiya .. Rumah masa depan! favorit tuh! :)

  6. July 3, 2006 at 00:22

    Memang mereka ingin dihujat bukan ditonton

  7. July 3, 2006 at 04:12

    Ndengerin radio sama saya saja yuk … oh iya, sama baca buku di bawah pohon.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: