26
Jun
06

Hujatan : Episode I

“Aku terbangun dengan merasa sesak sesak di paru-paruku. Seharusnya matahari tersenyum padaku pagi ini, tapi tak nampak, tertutup kabut bau, polusi! Hingga siang hari, asap sial itu selalu menemani. Teman yang tak diharapkan mestinya. Lalu senja datang dan malam berganti. Selalu begini. Bikin Bumiku pengab dan tak layak huni. Kemana lagi aku harus berlari. Karena di desa pun aku tak bisa bernafas lega. Indonesia oh Indonesia…..”

Pernahkah kita sedikit merenung untuk berfikir sejenak. Bukan hal itu yang kita harapkan saat pertama kali kita terlahir ke dunia. Dan kita juga seharusnya tidak menutup mata, hati, telinga, atas keadaan yang ada.

Kenyamanan kita menghirup udara segar pernah terganggu akibat polusi udara dari cerobong pabrik-pabrik besar. Belum lagi polusi suara dan limbahnya yang nggak karuan dan belum terselesaikan. Sekarang, kondisi itu diperparah dengan banyaknya kendaraan bermotor yang berkeliaran di setiap ruas jalan negri kita. Dengan pongahnya mereka menebar gas beracun. Merusak segalanya. Hal ini pernah menjadi isu publik dengan kendaraan roda dua tipe 2 langkah (2 tak) sebagai kambing hitam. Tapi isu tinggal isu. Kemanakah larinya janji pemerintah tentang peraturan emisi gas buang kendaraan bermotor di tanah air kita?

Coba lihat para bis kota itu, angkot (angkutan perkotaan), truk-truk baik besar maupun kecil, mobil-mobil pribadi berpenggerak mesin diesel, dan motor 2 tak juga tentunya. Mereka semua sebenarnya bukanlah musuh lingkungan. Tapi, Human Error yang membuat mereka menjadi bagian dari menipisnya lapisan ozon Bumi kita.

Mesin-mesin itu tak terawat. Hasilnya, ya polusi yang keluar dari mulut knalpot itu!

Pemerintah, dan kita bersama, semuanya, harus segera mengambil langkah tegas atas penyakit masyarakat ini. Setidaknya, peraturan tentang emisi gas buang benar-benar ditegakkan dan bukan untuk pajangan atau penenang hati masyarakat saja.

Dimanakah letak tanggung-jawab kita. Sebagai makhluk Tuhan, kita telah diserahi, diberi, Bumi ini gratis segratis-gratisnya. Cuman disuruh menjaga saja koq repot?!?

Sekali lagi, mari kita sedikit merenung tapi bukan lagi untuk berfikir, tetapi membayangkan. Bayangkan kekacauan kita diamkan saja. Tempat kita berpijak penuh sesak oleh polusi udara. Kemana-mana kita harus pakai masker. Jarak pandang berkurang. Udara menjadi panas dan pengab. Merusak kulit, merusak paru-paru, merusak Bumi. Lapisan ozon menipis lalu bolong. Dan kita tidak akan pernah tahu lagi, masihkan matahari tersenyum pagi ini atau esok hari?

Maka dari itu, jangan cuma direnungkan dan difikirkan saja. Segera bertindak!!! Kita buat langkah nyata dan selamatkan Bumi kita. Silahkan pilih, Anda semua akan mewariskan Bumi kita yang penuh polusi atau yang hijau, segar, atau yang boleh saya sebut dengan ”Surga Dunia”???

Update

Gambar di bawah ini pas cocok dengan apa yang aku tuliskan di atas.

094pollug.jpg


0 Responses to “Hujatan : Episode I”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: